Kamis, 24 Mei 2018

contoh makalah Idul Fitri

menurut mbah wikipedia Idulfitri atau juga ditulis dengan Idul Fitri (Bahasa Arab: عيد الفطر ‘Īdul-Fiṭr) adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal pada penanggalan Hijriyah. Karena penentuan 1 Syawal yang berdasarkan peredaran bulan tersebut, maka Idul Fitri atau Hari Raya Puasa jatuh pada tanggal yang berbeda-beda setiap tahunnya apabila dilihat dari penanggalan Masehi. Cara menentukan 1 Syawal juga bervariasi, sehingga boleh jadi ada sebagian umat Islam yang merayakannya pada tanggal Masehi yang berbeda.



berikut ini adalah contoh makalah idul fitri

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Lebaran atau hari raya Idul Fitri merupakan hari besar yang dinanti-nantikan oleh umat Islam di dunia, karena dihari itu adalah hari kemenangan bagi umat Islam setelah sebulan berpuasa di bulan Ramadhan.
Di hari lebaran masyarakat muslim di Indonesia biasanya melakukan mudik, yaitu orang yang bekerja di luar kota, dan akibat mudik tersebut jalan-jalan di Indonesia macet total. Liburan lebaran juga sering dijadikan moment untuk berkumpul dengan keluarga, saudara-saudara, bahkan kerabat jauh. Di hari-hari biasa, biasanya setiap orang sibuk dengan aktvitasnya masing-masing, sehingga jarang berkumpul dengan keluarga atau kerabat, jadi lebaran merupakan hari yang spesial sekali. Di hari lebaran biasanya bahan-bahan makanan dan sembako harganya melonjak naik, tetapi karena sudah menjadi kebiasaan masyarakat tak menghiraukannya lagi, bahkan membelinya lebih banyak dari biasanya.
Melihat kedaan ini, lebaran memang merupakan hari yang spesial sekali, karena dapat mempengaruhi tatanan hidup masyarakat, khusunya masyarakat Indonesia dari segi agama, segi sosial, dan budaya, serta segi ekonomi, maka dari itu saya tertarik ingin mengetahui lebih jauh tentang lebaran di tinjau dari ketiga segi. Dalam aspek kehidupan masyarakat Indonesia dan apa dampak terhadap lingkungan kehidupan kita semua, dan akan saya dokumentasikan dalam bentuk makalah ini.
 
 
BAB II
PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN IDUL FITRI
Idul Fitri (Bahasa Arab: عيد الفطر ‘Īdu l-Fiṭr) adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal pada penanggalan Hijriyah. Karena penentuan 1 Syawal yang berdasarkan peredaran bulan tersebut, maka Idul Fitri atau Hari Raya Puasa jatuh pada tanggal yang berbeda-beda setiap tahunnya apabila dilihat dari penanggalan Masehi. Cara menentukan 1 Syawal juga bervariasi, sehingga boleh jadi ada sebagian umat Islam yang merayakannya pada tanggal Masehi yang berbeda. Pada tanggal 1 Syawal, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan menyelenggarakan Salat Ied bersama-sama di masjid-masjid, di tanah lapang, atau bahkan jalan raya (terutama di kota besar) apabila area ibadahnya tidak cukup menampung jamaah. Dan sebelum salat ied di lakukan imam mengingatkan siapa yang belum membayar zakat fitrah, sebab kalau selesai salat ied baru membayar zakatnya hukum nya sodakoh biasa bukan zakat.
Ditinjau dari segi agama jelas lebaran merupakan hari besar agama Islam, setiap muslim di dunia sangat menantikan datangnya hari lebaran. Lebaran merupakan hari kemenangan setiap muslim yang telah melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan (kalender Hijriah). Di hari lebaran setiap muslim
Lebaran merupakan hari yang spesial dimana setiap muslim kembali ke fitrahnya, seolah-olah seperti bayi yang baru lahir ke dunia, dan pada malam lebaran setiap muslim wajib membayar zakat paling lambat sebelum shalat Idul Fitri selesai. Zakat berfungsi untuk menyucikan harta dan hati kita, lalu zakat yang diberikan kepada orang-orang yang tidak mampu atau fakir miskin.
Hari lebaran memang hari yang sangat spesial karena di hari itu. Kita dapat menyambung tali silaturahmi yang mungkin ada yang sudah terputus sekian bulan lamanya. Di dalam Al-Qur'an juga kita diperintahkan supaya kita harus tetap mempererat tali silaturahmi dengan sesama muslim
Lebaran dan agama sangatlah erat kaitannya, bahkan tidak bisa dipisah-pisahkan satu sama lainnya Setiap muslim memang wajib mengerjakan ibadah puasa di bulan Ramadhan karena hal itu sangat berguna bagi kita semua.


2. DAMPAK HARI RAYA IDUL FITRI DAN PENYEBABNYA
2.1 TINJAUAN SOSIAL BUDAYA
Di Indonesia lebaran sudah menjadi kebiasaan dan sudah menjadi adat istiadat., dimana setiap muslim biasanya merayakan dengan sangat antusias, di hari lebaran banyak hal-hal yang jarang di lihat di hari-hari biasa. Biasanya seminggu sebelum lebaran ruas-ruas jalan di seluruh Indonesia terjebak macet karena dalam lebaran kita akan mengenal budaya mudik atau pulang kampung yang biasanya mudik orang-orang yang bekerja di luar kota.
Di hari lebaran kita juga akan melihat beberapa makanan-makanan khas lebaran misalnya; ketupat, lontong sayur, opor ayam, dll. Bakhan setiap daerah memiliki makanan-makanan khas daerahnya sendiri. Dari segi sosial lebaran merupakan hari nyang menyatukan setiap orang berbagai kelas sosial, biasanya merka tidak mengenal siapa mereka, mereka tetap saling memaafkan satu sama lainnya, sehingga lingkungan menjadi rukun, aman, dan damai. Tapi ada juga yang kadang yang tak memanfaatkan moment lebaran ini dengan sebaik-baiknya, bisanya mereka mengandalkan imej dan ego mereka sendiri. Sehingga tetap tidak rukun yang sesanya bahkan keluarga mereka sendiri.
Di bulan Ramadhan dan di hari lebaran bisanya anak-anak suka bermain petasan dan kembang api, di pasar-pasar / warung banyak sekali orang berjualan petasan dan kembang api. Padahal petasan di larang oleh pemerintah karena dapat membahayakan keselamatan tapi mungkin karena sudah tradisi, tetap saja banyak orang yang menjual petasan sembunyi-sembunyi, bahkan ada.

Selain itu juga biasanya stasiun-stasiun televisi selalu menayangkan acara-acara yang berhubungan dengan bulan Ramadhan dan lebaran. Hal ini sangatlah baik supaya lebaran tetap pada hakikatnya yaitu hari kemenangan bagi muslim di Indonesia, bahkan di seluruh Indonesia. Satu hal lagi yang sudah menjadi budaya di hari lebaran yaitu yang berziarah ke kuburan keluarga kita, banyak sekali masyarakat yang datang untuk mendo’akan arwah-arwah kaluarganya, bahkan sekarang di Jakarta khusunya banyak sekali jasa-jasa yang mau mendo’akan atau memimpin do’a, biasanya orang-orang itu dari luar kota yang mengais rejeki yang mendo’akan orang yang meninggal.


2.2 TINJAUAN EKONOMI
Bisanya di bulan Ramadhan sampai lebaran harga-harga bahan pokok melonjak naik, harga BBM bisanya juga naik, minyak tanah, LPG, dan sebagainya ikut naik. Tapi masyarakat tetap membeli yang harus mereka beli, walaupun harga-harga sangat mahal. Hal ini jelas sekali sangatlah penting dalam lebaran, walaupun hal itu tidak diwajibkan. Dalam segi ekonomi kita membahas hanya seperti ini, karena semuanya sudah kita bahas dalam segi sebelumnya yaitu segi sosial budaya. Telah kita ketahui benar bahwa lebaran dalam sosial budaya dan segi ekonomi saling berkaitan satu sama lainnya. Sehingga tidak perlu di jelaskan lagi.

2.3 TINJAUAN SARANA TRANSPORTASI
Pada hari raya idul fitri tidak asing lagi kita akan melihat jalan-jalan akan macet yang di penuhi kendaraan-kendaraan yang ingin mudik ke kampung halaman. Tidak hanya di jalan raya saja yang terjadi penumpukan penumpang, tetapi kita juga akan melihat kejadian tersebut di stasiun, pelabuhan, terminal dan bandara. Orang orang yang ingin mendapatkan tiket rela antri sampai beberapa hari, bahkan tidak jarang mereka sampai bermalam ditempat penjualan tiket, hanya untuk mendapatkan tiket dan untuk bertemu sanak saudaranya dikampung halaman. Hal ini memang sudah menjadi tradisi setiap akan menjelang hari Raya Idul Fitri.



kesimpulan dari paparan diatas yaitu, pada hari raya idul fitri yang sering terjadi adalah
- Melonjaknya harga-harga barang di pasaran (sembako) seperti harga daging sapi, cabe, sayur-sayuran dan lain-lain. Yang mengakibatkan harga-harga tersebut naik karena tingginya permintaan konsumen terhadap barang tersebut, namun persediaan terhadap barang tersebut kurang, sehingga terjadinya kenaikan harga barang tersebut.

- Jalur transportasi yang sangat ramai dikarenakan para masyarakat yang ingin pulang ke kampung halamannya yang sekian lama merantau di kota lain demi mencari pekerjaan. Hal ini menyebabkan kemacetan di jalan-jalan, terutama di jalan yang dilalui jalur-jalur mudik. Tidak hanya di jalan darat saja, namun terjadi lonjakan penumpang yang mudik di pelabuhan-pelabuhan yang menggunakan jasa kapal, selain itu juga di bandara-bandara yang menggunakan jasa pesawat terbang.

- Maraknya penjualan mercon, kembang api dan sebagainya yang dapat mengakibatkan hal yang negatif. Banyak pedagang-pedagang yang berjualan secara diam-diam, karena hal itu dilarang polisi, namun mereka tetap saja berjualan untuk mendapatkan keuntungannya. Dampak dari penjualan mercon, kembang api dan sebagainya itu banyak anak-anak kecil terkena letupan dari barang tersebut, tak jarang menyebabkan anak kecil tersebut akan cacat.




3. SOLUSI DARI DAMPAK YANG TERJADI PADA HARI RAYA
Solusi dari semua masalah diatas akan dipaparkan dibawah ini :
 Kenaikan harga barang pada waktu menjelang lebaran sudahlah menjadi musiman setiap tahunnya, mulai dari harga barang kebutuhan pokok, peralatan rumah tangga hingga barang elektronik. Masyarakat pada umumnya sudah tahu dan bisa menduga hal itu sehingga untuk mengantisipasinya dilakukanlah pembelian barang jauh sebelum lebaran khususnya barang kebutuhan pokok yang tahan lama seperti beras, gula, minyak goreng, tepung dan barang lainnya yang digunakan untuk membuat makanan atau kue untuk dimakan pada saat lebaran.
 Kegiatan mudik di Hari Raya Idul Fitri merupakan sebuah tradisi tahunan yang selalu dinanti oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang berada di rantau. Mereka biasa memanfaatkan momen ini sebagai salah satu cara mengobati kerinduan akan sanak keluarga dan juga suasana kampung halaman.tentu hal ini menyebabkan kemacetan yang sangat luar biasa, bahkan karena kemacetan ini sering menyebabkan meningkatnya kecelakaan lalu lintas. Untuk mengurangi kemacetan ini pihak polisi, terutama bagian lalu lintas harus berupaya untuk meminimalisirkannya, baik dengan cara, yaitu :
1. Mempersipkan jalur alternatif yang bagus dan mendukung, jika terjadi kemacetan yang sangat parah.
2. Mempersiapkan dan memperbaiki jalan-jalan yang rusak, terutama jalu-jalur yang dilewati pemudik.
3. Turun langsung ke jalan raya untuk mengatur jalur lalu lintas, agar para pemudik bersikap taat pada peraturan lalu lintas. Hal ini juga bisa berfungsi mengurangi tingkat kecelakaan lalu lintas, yang sering terjadi akibat pemudik yang mengendarai kendaraannya tidak taat lalu lintas.
4. ”Pemerintah sebagai penyelenggara negara, diharap menciptakan kebijakan yang mampu berpihak kepada kenyamanan dan pengurangan kendaraan yang ada. Bila berani, kurangi produksi kendaraan, baik roda dua, empat maupun lebih dari sektor produksi. Atau, pemerintah diharapkan berani mengambil langkah untuk mengurangi volume kendaraan yang berlalu lalang pada hari raya”

• "Pengawasan terus dilakukan untuk melihat peredaran petasan di Tanah Abang,” ujar Idris Minggu 23 Agustus, seperti yang dikutip dari situs milik pemerintah.
Dari kutipan diatas kita bisa simpulkan, untuk mengurangi tingkat transaksi jual beli mercon, petasan atau kembang api dapat dilakukan dengan cara :
1. Mengadakan razia menjelang hari raya idul fitri, baik di jalan-jalan raya yang sering memperdagangkan mercon, petasan dan kembang api, serta melakukan razia dipabrik-pabrik yang memproduksi mercon, petasan dan kembang api dalam skala besar.
2. Menghimbau semua orang, terutama anak-anak kecil agar tidak bermain mercon, petasan dan kembang api, serta memberi penjelasan apa bahaya dan dampaknya jika terkena ledakannya.
3. Memberikan sanksi yang tegas bagi yang memperjual belikan mercon, petasan dan kembang api, agar para penjual merasa takut.



BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah Lebaran atau hari raya Idul Fitri merupakan hari besar yang dinanti-nantikan oleh umat Islam di dunia, karena dihari itu adalah hari kemenangan bagi umat Islam setelah sebulan berpuasa di bulan Ramadhan. Liburan lebaran juga sering dijadikan moment untuk berkumpul dengan keluarga, saudara-saudara, bahkan kerabat jauh. Di hari-hari biasa, biasanya setiap orang sibuk dengan aktvitasnya masing-masing, sehingga jarang berkumpul dengan keluarga atau kerabat, jadi lebaran merupakan hari yang spesial sekali. Di hari lebaran biasanya bahan-bahan makanan dan sembako harganya melonjak naik, tetapi karena sudah menjadi kebiasaan masyarakat tak menghiraukannya lagi, bahkan membelinya lebih banyak dari biasanya.


DAFTAR PUSTAKA
http://nesaci.com/contoh-kata-pengantar-makalah/ diunduh jum’at, 30 desember 2011
http://onyxblog94.blogspot.com/2011/12/cara-membuat-kata-pengantar-makalah.html diunduh jum’at, 30 desember 2011
http://id.wikipedia.org/wiki/Idul_Fitri diunduh sabtu, 31 desember 2011
http://www.mediaindonesia.com/welcome/opinipublik_all/37/10 dinduh sabtu, 31 desember 2011
http://metro.vivanews.com/news/read/8473tanah_abang_diawasi_dari_perdagangan_petasan diunduh sabtu, 31 desember 2011
http://www.google.co.id/#sclient=psy-ab&hl=id&source=hp&q=solusi mengurangi penjualan mercon dan kembang api diunduh minggu, 1 januari 2012
http://www.google.co.id/search?tbm=isch&hl=id&source=hp&biw=1468&bih=556&q=gambar+kemacetan diunduh kamis, 5 januari 20112
http://www.google.co.id/#hl=id&cp=27&gs_id=3n&xhr=t&q=transaksi+jual+beli+petasan&pf=p&sclient= diunduh kamis, 5 januari 2012
  
sumber makalah : http://alfancandras2301.blogspot.co.id/2016/06/tugas-makalah-tentang-hari-raya-besar.html

Contoh makalah terorisme

merujuk sumber yang biasa admin baca yakni wikipedia Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil.



berikut ini adalah contoh maklah tentang terorisme semoga bermanfaat ya bagi tugas kalian


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Jaringan teroris di Indonesia ternyata lebih besar dan lebih berpengalaman dari yang selama ini dipikirkan oleh banyak pihak. Analis International Crisis Group (ICG) mengatakan perekrutan anggota baru dalam jaringan yang dibangun Noordin M Top ternyata dilakukan dengan sangat mudah. Jaringannya pun terus berkembang dan semakin meluas di tanah air.
Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil.
Akibat makna-makna negatif yang dikandung oleh perkataan "teroris" dan "terorisme", para teroris umumnya menyebut diri mereka sebagai separatis, pejuang pembebasan, pasukan perang salib, militan, mujahidin, dan lain-lain. Tetapi dalam pembenaran dimata terrorism : "Makna sebenarnya dari jihad, mujahidin adalah jauh dari tindakan terorisme yang menyerang penduduk sipil padahal tidak terlibat dalam perang". Padahal Terorisme sendiri sering tampak dengan mengatasnamakan agama.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa penengertian teroris?
2.      Bagaimana usaha teroris dalam merekrut anggota-anggotanya?
3.      Apa tujuan teroris dalam melaksanakan aksinya?
4.      Bagaimana perkembangan jaringan teroris saat ini?
5.      Bagaimana cara agar terhindar dari pengaruh teroris?



1.3  Tujuan
1.      Mengetahui pengertian teroris.
2.      Mengetahui bagaimana usaha yang dilakukan teroris untuk merekrut anggota.
3.      Mengetahui tujuan teroris dalam melaksanakan aksinya.
4.      mengetahui bagaimana perkembangan jaringan teroris saat ini.
5.      Mengetahui cara agar terhindar dari pengaruh teroris.







BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Teroris
Kata teror pertama kali dikenal pada zaman Revolusi Prancis. Diakhir abad ke-19, awal abad ke-20 dan menjelang PD-II, terorisme menjadi teknik perjuangan revolusi. Misalnya, dalam rejim Stalin pada tahun 1930-an yang juga disebut ”pemerintahan teror”. Di era perang dingin, teror dikaitkan dengan ancaman senjata nuklir.
Istilah teroris oleh para ahli kontraterorisme dikatakan merujuk kepada para pelaku yang tidak tergabung dalam angkatan bersenjata yang dikenal atau tidak menuruti peraturan angkatan bersenjata tersebut. Aksi terorisme juga mengandung makna bahwa serang-serangan teroris yang dilakukan tidak berperikemanusiaan dan tidak memiliki justifikasi, dan oleh karena itu para pelakunya ("teroris") layak mendapatkan pembalasan yang kejam.

Akibat makna-makna negatif yang dikandung oleh perkataan "teroris" dan "terorisme", para teroris umumnya menyebut diri mereka sebagai separatis, pejuang pembebasan, militan, mujahidin, dan lain-lain. Tetapi dalam pembenaran dimata terrorism : "Makna sebenarnya dari jihad, mujahidin adalah jauh dari tindakan terorisme yang menyerang penduduk sipil padahal tidak terlibat dalam perang". Padahal Terorisme sendiri sering tampak dengan mengatasnamakan agama.

Selain oleh pelaku individual, terorisme bisa dilakukan oleh negara atau dikenal dengan terorisme negara (state terorism). Misalnya seperti dikemukakan oleh Noam Chomsky yang menyebut Amerika Serikat ke dalam kategori itu. Persoalan standar ganda selalu mewarnai berbagai penyebutan yang awalnya bermula dari Barat. Seperti ketika Amerika Serikat banyak menyebut teroris terhadap berbagai kelompok di dunia, di sisi lain liputan media menunjukkan fakta bahwa Amerika Serikat melakukan tindakan terorisme yang mengerikan hingga melanggar konvensi yang telah disepakati.
Kata Terorisme sendiri berasal dari Bahasa Prancis le terreur yang semula dipergunakan untuk menyebut tindakan pemerintah hasil Revolusi Perancis yang mempergunakan kekerasan secara brutal dan berlebihan dengan cara memenggal 40.000 orang yang dituduh melakukan kegiatan anti pemerintah. Selanjutnya kata terorisme dipergunakan untuk menyebut gerakan kekerasan anti pemerintah di Rusia. Dengan demikian kata terorisme sejak awal dipergunakan untuk menyebut tindakan kekerasan oleh pemerintah maupun kegiatan yang anti pemerintah.
Namun, istilah ”terorisme” sendiri pada 1970-an dikenakan pada beragam fenomena: dari bom yang meletus di tempat-tempat publik sampai dengan kemiskinan dan kelaparan. Beberapa pemerintahan bahkan menstigma musuh-musuhnya sebagai ”teroris” dan aksi-aksi mereka disebut ”terorisme”. Istilah ”terorisme” jelas berkonotasi peyoratif, seperti istilah ”genosida” atau ”tirani”. Karena itu istilah ini juga rentan dipolitisasi. Kekaburan definisi membuka peluang penyalahgunaan. Namun pendefinisian juga tak lepas dari keputusan politis.
T.P.Thornton dalam Terror as a Weapon of Political Agitation (1964) mendefinisikan terorisme sebagai penggunaan teror sebagai tindakan simbolis yang dirancang untuk mempengaruhi kebijakan dan tingkah laku politik dengan cara-cara ekstra normal, khususnya dengan penggunaan kekerasan dan ancaman kekerasan. Terorisme dapat dibedakan menjadi dua katagori, yaitu enforcement terror yang dijalankan penguasa untuk menindas tantangan terhadap kekuasaan mereka, dan agitational terror, yakni teror yang dilakukan menggangu tatanan yang mapan untuk kemudian menguasai tatanan politik tertentu. Jadi sudah barang tentu dalam hal ini, terorisme selalu berkaitan erat dengan kondisi politik yang tengah berlaku.
Menurut konvensi PBB tahun 1939, terorisme adalah segala bentuk tindak kejahatan yang ditujukan langsung kepada negara dengan maksud menciptakan bentuk teror terhadap orang-orang tertentu atau kelompok orang atau masyarakat luas.
Menurut kamus Webster's New School and Office Dictionary, terrorism is the use of violence, intimidation, etc to gain to end; especially a system of government ruling by teror, pelakunya disebut terrorist. Selanjutnya sebagai kata kerja terrorize is to fill with dread or terror'; terrify; ti intimidate or coerce by terror or by threats of terror.
 Menurut ensiklopeddia Indonesia tahun 2000, terorisme adalah kekerasan atau ancaman kekerasan yang diperhitungkan sedemikian rupa untuk menciptkan suasana ketakutan dan bahaya dengan maksud menarik perhatian nasional atau internasional terhadap suatu aksi maupun tuntutan.
RAND Corporation, sebuah lembaga penelitian dan pengembangan swasta terkemuka di AS, melalui sejumlah penelitian dan pengkajian menyimpulkan bahwa setiap tindakan kaum terorris adalah tindakan kriminal.
Definisi konsepsi pemahaman lainnya menyatakah bahwa :
(1)   terorisme bukan bagian dari tindakan perang, sehingga seyogyanya tetap dianggap sebagai tindakan kriminal, juga situasi diberlakukannya hukum perang
(2)   sasaran sipil merupakan sasaran utama terorisme, dan dengan demikian penyerangan terhadap sasaran militer tidak dapat dikategorikan sebagai tindakan terorisme
(3)   meskipun dimensi politik aksi teroris tidak boleh dinilai, aksi terorisme itu dapat saja mengklaim tuntutanan bersifat politis
a.      Ciri-ciri terorisme
Menurut beberapa literatur dan reference termasuk surat kabar dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri terorisme adalah :
1.      Organisasi yang baik, berdisiplin tinggi & militant
2.      Mempunyai tujuan politik, ideologi tetapi melakukan kejahatan kriminal untuk mencapai tujuan.
3.      Tidak mengindahkan norma-norma universal yang berlaku, seperti agama, hukum dan HAM.
4.      Memilih sasaran yang menimbulkan efek psikologis yang tinggi untuk menimbulkan rasa takut dan mendapatkan publikasi yang luas.
5.      Menggunakan cara-cara antara lain seperti : pengeboman, penculikan, penyanderaan, pembajakan dan sebagainya yang dapat menarik perhatian massa/publik.
Yon seorang Koordinator Bidang Kajian, Publikasi, dan Penelitian Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia itu menjelaskan, secara umum pelaku terorisme, termasuk pelaku bom bunuh diri, berdasarkan motivasi dapat dibedakan dalam empat kategori.
Kategori pertama, berkaitan dengan ideologi dan keyakinan, yakni kelompok teroris yang dimotivasi oleh ajaran agama biasanya dididik dalam lembaga-lembaga pendidikan keagamaan dalam waktu yang lama dan dipersiapkan untuk aktifitas terorisme.
"Kelompok ini biasanya memiliki ciri-ciri keagamaan tertentu. Melihat trend pengeboman di Indonesia pada dasawarsa terakhir ini dapat disimpulkan bahwa terorisme dengan motivasi ajaran agama secara murni hampir dipastikan telah hilang.
Hal itu, lanjutnya, karena komunitas agama di Indonesia tidak menolerir segala bentuk aksi terorisme. Bahkan kelompok-kelompok yang dianggap keras sekalipun, seperti Ustaz Abu Bakar Baasyir dan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), secara tegas menolak cara-cara yang dilakukan kelompok Noordin M Top.
Kategori kedua, kelompok yang tereksploitasi. Kelompok inilah yang mendominasi aksi-aksi terorisme di Indonesia.
Walaupun pelaku mendapatkan indoktrinasi dan sekaligus proyeknya dari anggota dalam jaringan teroris di Indonesia, tetapi sebagian besar tidak mengenal dengan baik orang telah mencuci otaknya (brainwashing),
mereka yang dapat dieksploitasi menjadi suicide bombers (pelaku bom bunuh diri) adalah yang memiliki perasaan bersalah atau merasa hidupnya tak bermakna.
Sebagian besar dari mereka berasal dari segmen pemuda yang bermasalah secara psikologis dan sosial, serta bukan berasal dari kelompok religius.
"Ciri-cirinya pun berbeda dengan kategori pertama. Mereka tidak direkrut di masjid tetapi di jalan. Tentu mengeksploitasi segmen masyarakat seperti ini sangat mudah dan inilah yang menjadi fenomena terorisme di Indonesia," ujarnya.
Kategori ketiga, dimotivasi oleh balas dendam atas kekerasan oleh rezim Orde Baru terhadap anggota keluarga mereka, Kelompok ini dapat berasal dari keluarga Darul Islam (DI). Hanya saja untuk saat ini tentu sangat susah mendapatkan keluarga DI yang masih mengalami trauma kekerasan yang diterima oleh keluarga mereka.
Sedangkan kategori keempat adalah kelompok separatis yang berkembang di Indonesia.
Pada kenyataannya, kata Yon, kelompok itu telah melakukan transformasi kepada gerakan politik dan berdamai dengan pemerintah Indonesia.

b.      Bentuk-bentuk Terorisme.
Dilihar dari cara-cara yang digunakan :
1) Teror Fisik yaitu teror untuk menimbulkan ketakutan, kegelisahan memalui sasaran pisik jasmani dalam bentuk pembunuhan, penganiayaan, pemerkosaan, penyanderaan penyiksaan dsb, sehingga nyata-nyata dapat dilihat secara pisik akibat tindakan teror.
2) Teror Mental, yaitu teror dengan menggunakan segala macam cara yang bisa menimbulkan ketakutan dan kegelisahan tanpa harus menyakiti jasmani korban (psikologi korban sebagai sasaran) yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan tekanan batin yang luar biasa akibatnya bisa gila, bunuh diri, putus asa dsb.
Dilihat dari Skala sasaran teror :
1) Teror Nasinal, yaitu teror yang ditujukan kepada pihak-pihak yang ada pada suatu wilayah dan kekuasaan negara tertentu, yang dapat berupa : pemberontakan bersenjata, pengacauan stabilitas nasional, dan gangguan keamanan nasional.
2) Teror Internasional. Tindakan teror yang diktujukan kepada bangsa atau negara lain diluar kawasan negara yang didiami oleh teroris, dengan bentuk :
a) Dari Pihak yang kuat kepada pihak yang lemah. Dalam bentuk penjajahan, invansi, intervensi, agresi dan perang terbuka.
b) Dari Pihak yang Lemah kepada Pihak yang kuat. Dalam bentuk pembajakan, gangguan keamanan internasional, sabotase, tindakan nekat dan berani mati, pasukan bunuh diri, dsb.

2.2 Usaha Teroris Dalam Merekrut Anggota
Menurut Margaretha seorang Psikolog Universitas Airlangga (Unair), konsep pencucian otak merupakan terminologi yang sangat umum. Dari perspektif komunikasi, pelaku kejahatan ini mendekati calon korban dengan proses persuasi. Proses yang secara sadar bertujuan untuk mempengaruhi orang berperilaku sesuatu.
Pencucian otak sangat bisa berhasil dengan proses persuasi yang sangat profesional. Bisa dengan teknik lowball atau juga sugesti.
Teknik lowball, biasanya diawali dengan sebuah permintaan halus. Permintaan ringan yang disodorkan berlangung terus menerus. Misalnya, seseorang meminta pertolongan secara materil.
Kejahatan dengan teknik lowball ini dilakukan dengan jangka waktu lama dan dilakukan secara berulang-ulang pada korban yang sama. Semakin lama, si pelaku semakin memberikan permintaan yang semakin berat. Teknik pencucian otak ini dilancarkan kepada calon korban secara sadar.
Sedangkan, teknik sugesti digunakan si pelaku dengan menyerang alam tak sadar calon korban. Biasanya masyarakat lebih akrab dengan teknik gendam. Calon korban diserang dalam posisi tenang yakni pada saat istirahat atau tahap gelombang otak mengarah tenang.
Menurut Mardigu WP ahli pengamat terorisme, modus yang digunakan para ‘pencuci otak’ untuk melaksanakan tujuannya adalah mencari dana dengan doktrin jihad. Pertama, pelaku akan mengajak si korban untuk hijrah, lalu berjihad, dan terakhir memintanya berinfaq.
Pendekatan yang dilakukan para pelaku juga tergolong singkat. Sejak pertama kali mengenal korban hingga melakukan eksekusi, mereka butuh waktu dua minggu.
Tidak hanya itu, sasaran korban pun beragam. Tidak ada golongan khusus, atau jenis kelamin tertentu. Yang jelas, Mardigu meminta semua pihak waspada jika ada orang-orang asing yang mengajak kenalan dengan cara yang sangat intens.

2.3 Tujuan Teroris
a.          Tujuan Jangka Pendek, meliputi :
1.      Mempeeroleh pengakuan dari masyarakat lokal, nasional, regional maupun dunia internasional atas perjuangannya.
2.      Memicu reaksi pemerintah, over reaksi dan tindakan represif yang dapat mengakibatkan keresahan di masyarakat.
3.      Mengganggu, melemahkan dan mempermalukan pemerintah, militer atau aparat keamanan lainnya.
4.      Menunjukkan ketidak mampuan pemerintah dalam melindungi dan mengamankan rakyatnya.
5.      Memperoleh uang atau perlengkapan.
6.      Mengganggu dan atau menghancurkan sarana komunikasi, informasi maupun transportasi.
7.      Mencegah atau menghambat keputusan dari badan eksekutif atau legislatif.
8.      Menimbulkan mogok kerja.
9.      Mencegah mengalirnya investasi dari pihak asing atau program bantuan dari luar negeri.
10.  Mempengaruhi jalannya pemilihan umum.
11.  Membebaskan tawanan yang menjadi kelompok mereka.
12.  Membalas dendam.
b.         Tujuan Jangka Panjang, meliputi :
1.      Menimbulkan perubahan dramatis dalam pemerintahan, seperti revolusi, perang saudara atau perang antar negara.
2.      Mengganti ideologi suatu negara dengan ideologi kelompoknya.
3.      Menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi pihak teroris selama perang gerilya.
4.      Mempengaruhi kebijakan pembuat keputusan baik dalam lingkup lokal, nasional, regional atau internasional.
5.      Memperoleh pengakuan politis sebagai badan hukum untuk mewakili suatu suku bangsa atau kelompok nasional, misalnya PLO.

2.4 Perkembangan Terorisme Saat Ini
Pola Terorisme terus berubah dan berkembang. Sedangkan pada permukaan pada intinya tetap "Merencanakan suatu tindakan dengan menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang melanggar hukum untuk menanamkan rasa takut ..." Ini sangat efektif digunakan sebagai alat strategis dalam menghadapi Lawan yang dihadapinya. Bagaimanapun terorisme telah berkembang dengan luar biasa dengan menerapkan strategi perang abad 21, mereka juga selalu beradaptasi dengan perubahan sosial politik dunia serta lingkungan. Beberapa perubahan itu telah mampu memfasilitasi kemampuan dari teroris dalam beroperasi, memperoleh dana, dan mengembangkan kemampuan baru. Perubahan lain adalah secara perlahan terorisme telah bergerak membangun hubungan yang berbeda menuju dunia yang lebih luas.
Untuk mengetahui lebih dalam tentang bagaimana konteks perubahan ini , maka kita perlu melihat sejarah perkembangan terorisme, dengan mewarisi perubahan kontur atas teknik yang dipelopori oleh orang lain. Perkembangan ini didorong oleh perkembangan yang berlangsung secara alami, berlangsung dalam suatu konflik dan hubungan internasional. Hal ini juga perlu di pertimbangkan karena dapat menjadi kemungkinan penyebab konflik yang lebih besar di masa mendatang, sehingga sangat penting untuk mengetahui Tokoh dan motivasi mereka.
Berbicara tentang evolusi/perkembangan terorisme dan penggunaan teror berdasarkan sejarah, penting untuk diketahui bahwa bentuk-bentuk masyarakat dan pemerintah di masa lalu sangat berbeda dari apa yang ada saat ini. Seperti diketahui bahwa negara-negara modern belum terbentuk sampai 1648 (Perjanjian Westphalia), dan negara pada saat itu di monopoli oleh perang, atau kekerasan antar-negara. Keterbatasan dari pemerintah pusat tidak memungkinkan untuk menggunakan teror sebagai metode untuk mempengaruhi perubahan politik, karena tidak ada satu otoritas politik yang dominan. Demikian juga dengan tidak adanya pusat kekuasaan berarti bahwa penggunaan peperangan lebih terbuka bagi setiap kelompok. Tidak hanya tentara nasional, masyarakat golongan bawah, Tentara bayaran, pimpinan golongan agama, atau para pedagang dan pengusaha turut serta terlibat dan berpartisipasi dalam peperangan. Keterlibatan mereka dalam peperangan dianggap sah. Hal ini tentu sangat kontras dengan era modern, di mana Negara terlibat dalam perang, sedangkan partisipasi pribadi adalah illegal
Teori awal dari Terorisme
Awal penggunaan terorisme, seperti fanatisme dan pembunuhan sebenarnya tidak meninggalkan filosofi tertentu atau doktrin tertentu dalam penggunaan terorisme. Suatu pengecualian atas kegagalan spektakuler seperti “Guy Fawkes” dengan terinspirasi agama berusaha untuk membunuh King James I dan Anggota Parlemen Inggris, membuktikan terorisme tidak pernah terpisah dengan kemajuan atau melampaui batas normal dari bentuk peperangan pada saat itu. Sebagaimana sistem politik menjadi lebih canggih, dan kekuasaan politik dilihat kurang lebih merupakan karunia ilahi dan dan banyak lagi pembangunan sosial ide-ide baru yang mengakibatkan timbulnya konflik-konflik baru.
Suasana perang dan konflik politik yang melanda Eropa setelah Revolusi Perancis telah memberikan inspirasi dan pemikiran pada theory politik pada awal 1800an. Beberapa teori penting dari revolusi sosial telah berkembang selama waktu itu. Menghubungkan antara kekerasan revolusioner dan teror yang telah berkembang sejak awal. Theory Revolusioner menolak kemungkinan reformasi sistem dan menginginkan kekerasan dan kerusakan. Tindakan ekstrimis ini menjadi dasar untuk penggunaan kekerasan politik .
Dua ideologi yang menggunakan kekerasan dalam perubahan sosial adalah Marxism yang kemudian berkembang menjadi komunisme, dan Anarkisme. Keduanya pada dasarnya adalah hanya khayalan yang muluk-muluk, mereka menyatakan bahwa mereka meletakkan teori dan praktek dapat menghasilkan masyarakat yang ideal. Kedua ideologiy ini sepaham bahwa kemunculan mereka adalah karena kerusakan sistem yang ada. Keduanya mengakui bahwa kekerasan di luar batas dapat diterima dan peperangan dan pemberontakan justru diperlukan. Komunisme memfokuskan pada perang kelas ekonomi, dan diasumsikan penyitaan kekuasaan negara oleh (rakyat jelata) sampai negara tidak lagi diperlukan, dan akhirnya dibuang .Anarkisme menganut paham kurang lebih penolakan terhadap segala bentuk pemerintahan. Para anarkis percaya bahwa setelah negara benar-benar hancur, tidak perlu lagi dibentuk yagng baru sehingga orang bisa hidup dan berinteraksi tanpa paksaan pemerintah. Dalam jangka pendek, penerimaan dari apa yg di tawarkan komunisme ini diperlukan untuk keperluan organisasi dan pemaksaan yang digunakan oleh negara saat itu membuat ideologi ini lebih berhasil dari dua ideologi yang lain. Anarkisme bertahan di era modern, dengan mempertahankan daya tarik untuk tetap menerapkan kekerasan sampai hari ini

Abad Evolution of Terrorism
Pada awal Abad 20an. Ideologi yang berdasarkan Nasionalisme dan revolusi adalah merupakan suatu kekuatan yang paling utama yang terus di kembangkan menghadapi terorisme. Bila Perjanjian Versailles menggambar kembali peta Eropa setelah Perang Dunia I oleh kehancuran kekaisaran Austro-Hungarian yang mengakibatkan terciptanya negara-negara baru, ini diakui sebagai prinsip penentuan nasib sendiri untuk negara dan kelompok etnis. Hal ini mendorong etnis minority dan penduduk asli tidak menerima pengakuan untuk mengkampanyekan kemerdekaan atau otonomi. Namun, dalam banyak kasus, penentuan nasib sendiri adalah terbatas pada negara-negara Eropa dan kelompok etnik di Eropa sementara yang lain tidak boleh, terutama penguasa kekuasaan Eropa, telah menciptakan kepahitan dan periode konflik jangka panjang di daerah-daerah jajahan atau koloninya..
Secara khusus, Negara-Negara Arab merasa bahwa mereka telah di Khianati. mereka percaya akan kemerdekaan, mereka sangat kecewa; pertama ketika Perancis dan Inggris diberi kewenangan atas tanah mereka, dan kemudian ketika Inggris mengijinkan imigrasi Zionist masuk ke wilayah Palestina Sesuai dengan isi Deklarasi Balfour.
Sejak akhir Perang Dunia II, terorisme telah mempercepat perkembangannya menjadi komponen utama dalam konflik kontemporer. Terutama di gunakan segera setelah perang sebagai unsur utama anti-penjajahan dan perannya semakin meluas. Dalam Pelayanan di berbagai aspirasi dan ideologi, terkadang terorisme digantikan dengan bentuk konflik lain. Hal ini menjadi senjata jarak jauh yang mampu mencapai efek global lebih kurang seperti roket jarak jauh. Ia juga telah dibuktikan dapat menjadi alat signifikan dari diplomasi internasional dan terbukti beberapa negara cenderung untuk menggunakannya.
Nampaknya hasil yang cepat dan goncangan yang besar dari terorisme telah menjadi pertimbangan sebagai jalan singkat menuju kemenangan. Kelompok Revolusioner yang tidak rela untuk memberikan waktu dan sumber daya dalam mengatur kegiatan politik akan bergantung pada "propaganda dari aksi yang dibuat" untuk menggerakkan aksi massa yang besar. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok pergerakan kecil dapat menumbangkan setiap pemerintah melalui penggunaan terror hal ini dipercayai oleh oleh kaum revolusioner
Saat ini, motif terorisme lebih sering dikaitkan dengan dimensi moral yang luas seperti nilai, ideologi, agama, ketidakadilan tatanan dan struktur sosial maupun konstelasi dunia. Namun tidak dipungkiri, bahwa sekarang ini, Islam diidentikan sedemikian rupa sebagai agama yang mengusung terorisme. Perkembangan Islam, baik secara institusi dan ataupun individualnya, telah mengkhawatirkan dunia internasional sedemikian rupa tanpa alasan yang jelas sama sekali.
Stigma Islam yang melahirkan kekerasan terus dimunculkan setiap hari di berbagai belahan dunia.Hingga umat pun perlahan-lahan mulai percaya bahwa Islam mengusung kekerasan seperti itu, padahal tak sedikitpun agama ini menganjurkan kekerasan. Dalam berperang, Islam telah mengajarkan syarat dan ketentuan seperti tidak sembarangan, tidak boleh membunuh non-kombatan, tidak boleh merusak pepohonan, tidak boleh berlebihan, dan sebagainya.
Terorisme gaya baru mengandung beberapa karakteristik:
1.      ada maksimalisasi korban secara sangat mengerikan.
2.      keinginan untuk mendapatkan liputan di media massa secara internasional secepat mungkin.
3.      tidak pernah ada yang membuat klaim terhadap Terorisme yang sudah dilakukan.
4.      serangan Terorisme itu tidak pernah bisa diduga karena sasarannya sama dengan luasnya seluruh permukaan bumi.

Perkembangan Terorisme di Indonesia
Terorisme sebuah fenomena yang mengganggu. Aksi terorisme seringkali melibatkan beberapa negara. Sponsor internasional yang sesungguhnya adalah negara besar. Harus dipahami bahwa terorisme sekarang telah mendunia dan tidak memandang garis perbatasan internasional.
Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1373 yang menetapkan Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden berada dibalik tragedi 11 September 2001 dan dinyatakan sebagai Terorisme yang harus diberantas oleh dunia telah menimbulkan berbagai reaksi dikalangan masyarakat internasional diantaranya muncul tanggapan yang menyatakan bahwa justru Amerika Serikat lah yang mensponsori aksi teror di dunia dengan membentuk konspirasi global yang didukung sekutunya dengan tujuan menghancurkan Islam di Indonesia tanggapan tersebut santer ketika munculnya pernyataan PM Senior Singapura Lee Kuan Yeuw bahwa Indonesia “Sarang Teroris” yang serta merta seluruh masyarakat Indonesia menolak pernyataan tersebut dengan membakar gambar/patung PM Singapura.
Walaupun Polri berhasil menangkap para pelaku serta mengungkap jaringan Terorisme yang berada dibalik peristiwa tersebut, namun hal ini sangat berdampak pada semua aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Atas hasil pengungkapan kasus peledakan bom Bali reaksi masyarakat yang semula cenderung apriori terhadap bom Bali, seolah-olah semua ini adalah hasil rekayasa internasional bersama pemerintah, kini telah bergeser dan mampu melihat fakta secara obyektif melalui proses penanganan dan pengungkapan berbagai macam serta semua jaringan dan para pelaku serta.
Taktik. Yang sering dilakukan oleh para teroris adalah:
1) Bom. Taktik yang sering digunakan adalah pengeboman. Dalam dekade terakhir ini sering terjadi aksi teror yang dilaksanakan dengan menggunakan bom, baik di Indonesia maupun di luar negeri, dan hal ini kedepan masih mungkin terjadi.
2) Pembajakan. Pembajakan sangat populer dilancarkan oleh kelompok teroris. Pembajkan terhadap pesawat terbang komersial pernah terjadi di beberapa negara, termasuk terhadap pesawat Garuda Indonesia di Don Muang Bangkok pada tahun 1981. Tidak menutup kemungkinan pembajakan pesawat terbang komersial masih akaan terjadi saat ini dan massa yang akan datang, baik di Indonesia maupun di luar negeri.
3) Pembunuhan. Pembunuhan adalah bentuk aksi teroris yang tertua dan masih digunakan hingga saat in. Sasaran dari pembunuhan ini seringkali telah diramalkan, teroris akan mengklaim bertanggungjawab atas pembunuhan yang dilaksanakan. Sasaran dari pembunuhan ini biasanya adalah pejabat pemerintah, penguasa, politisi dan aparat keamanan. Dlam sepuluh tahun terakhir tercatat 246 kasus pembunuhan oleh teroris seluruh dunia.
4) Penculikan. Tidak semua penghadangan ditujukan untuk membunuh. Dalam kasus kelompok gerilya Abu Sayaf di Filipina, penghadangan lebih ditujukan untuk menculik personel, sepperti yang dilakukan oleh kelompok GAM terhadap kameraman RCTI Ersa Siregar dan Fery Santoro di Aceh. Penculikan biasanya akan diikuti dengan tuntutan imbalan berupa uang atau tuntutan p[olitik lainnya.
5) Penyanderaan. Perbedaan antara penculikan dan penyanderaan dalam dunia terorisme sangat tipis. Kedua bentuk operasi ini seringkali meimiliki pengegertian yang sama. Penculik biasanya meennan korbannya di tempat tersembunyi dan tuntutannya adalah berupa materi dan uang, sedangkan penyanderaan biasanya menahan sandera di tempat umum ataupun di dalam hutan seperti yang dilakukan oleh kelompok Kelly Kwalik di Papua yang menyandera tim peneliti Lorenz pada tahun 1996. Tuntutan penyannderaan lebih dari sekedar materi. Biasanya tuntutan politik lebih sering dilemparkan pada kasus penyanderaan ini.

2.5  Cara Agar Terhindar Dari Pengaruh Terorisme
Dalam rangka memerangi aksi terorisme, secara umum diperlukan persyaratan kesiapan yang meliputi :
(1) kesiapan dibidang politik, yakni perlunya dukungan masyarakat secara penuh bahwa terorisme adalah musuh bangsa dan negara yang harus dihadapi oleh segenap bangsa;
(2) kesiapan dibidang hukum, peraturan perudangan dibidang pemberantasan terorisme merupakan agenda mutlak, karena hukum ini akan memberikan kekuatan kepada semua pihak untuk menjerat pelaku terorisme, disadari bahwa hukum untuk menghadapi aksi teror kurang sejalan dengan semangat demokrasi dan HAM;
(3) kesiapan bidang operasional, yakni menuntut kesiapan adanya satuan antiteror dan Litbang teror, bekerjasama dengan semua pihak, permasalahannya adalah belum adanya aturan baku atau prosedur tetap yang baku dan mengikat semua pihak.
Masyarakat harus lebih menyadari tentang keadaan dirinya, menyadari proses yang dirinya sedang terlibat saat itu. Untuk teknik lowball, biasanya yang diserang adalah orang bertipe mudah merasa bersalah. Jadi saat diminta untuk berbuat sesuatu, tidak bisa menolak.

Tak jauh beda dengan teknik lowball, teknik sugesti juga harus diwaspadai. Kuncinya, masyarakat memang harus meningkatkan kesadaran diri. “Bila ada orang asing yang memberikan perhatian berlebihan, jangan ragu-ragu menolak. Biasanya pelaku-pelaku kejahatan tersebut mensugesti kita menuju ketenangan, bisa dengan memberikan kue atau bahkan mengajak ke suatu tempat.



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Terorisme adalah kekerasan atau ancaman kekerasan yang diperhitungkan sedemikian rupa untuk menciptkan suasana ketakutan dan bahaya dengan maksud menarik perhatian nasional atau internasional terhadap suatu aksi maupun tuntutan.
Ciri-ciri terorisme adalah :
1.      Organisasi yang baik, berdisiplin tinggi & militant
2.      Mempunyai tujuan politik, ideologi tetapi melakukan kejahatan kriminal untuk mencapai tujuan.
3.      Tidak mengindahkan norma-norma universal yang berlaku, seperti agama, hukum dan HAM.
4.      Memilih sasaran yang menimbulkan efek psikologis yang tinggi untuk menimbulkan rasa takut dan mendapatkan publikasi yang luas.
5.      Menggunakan cara-cara antara lain seperti : pengeboman, penculikan, penyanderaan, pembajakan dan sebagainya yang dapat menarik perhatian massa/publik.
               Bentuk-bentuk Terorisme:
v  Dilihar dari cara-cara yang digunakan :
1) Teror Fisik
2) Teror Mental
v  Dilihat dari Skala sasaran teror :
1) Teror Nasional
2) Teror Internasional
a) Dari Pihak yang kuat kepada pihak yang lemah. Dalam bentuk penjajahan, invansi, intervensi, agresi dan perang terbuka.
b) Dari Pihak yang Lemah kepada Pihak yang kuat. Dalam bentuk pembajakan, gangguan keamanan internasional, sabotase, tindakan nekat dan berani mati, pasukan bunuh diri, dsb.
Dalam rangka memerangi aksi terorisme, secara umum diperlukan persyaratan kesiapan yang meliputi :
(1) kesiapan dibidang politik
(2) kesiapan dibidang hukum
(3) kesiapan bidang operasional

3.2 Saran
Setiap tindakan kaum teroris adalah tindakan kriminal. Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat yang mempunyai moral, pendidikan, dan etika sudah selayaknya tidak terjerumus hal-hal yang berhubungan dengan tindakan terorisme ataupun tindakan kriminal lainnya. Selain itu, penyuluhan terhadap bahaya terorisme di sekitar kita perlu diadakan untuk antisipasi terpengaruhnya masyarakat awam terhadap terorisme.





DAFTAR PUSTAKA


  sumber makalah : http://likha-ika.blogspot.co.id/2012/01/makalah-terorisme-di-indonesia.html